Posting pekerjaan

Dokter Diagnosis Covid 19, Bukan Tanpa Dasar

Seputartakalar.com,– Saat ini sangat banyak tulisan tentang Covid-19 yang diulas melalui berbagai media seperti facebook, instagram, line, whatsapp dan media lainnya. Kemudahan informasi ini memiliki dampak membangun frame masyarakat terkait sebuah informasi termasuk Covid-19. Kalau beritanya benar maka akan mencerahkan, namun jika berita hoax maka akan menyesatkan masyarakat.

Kaum terpelajar dikalangan masyarakat harusnya hadir mencerahkan dengan ilmu tentang sesuatu hal. Jadi basisnya ilmu bukan karena testimoni.

Masyarakat yang terdidik harusnya mampu menscreening info mana yang benar dishare atau hanya sekadar hoax, karena jangan sampai masyarakat jadi panik dan berbahaya dalam pemahamannya.

Termasuk teman-teman tenaga medis atau tenaga kesehatan hendaknya memberikan  informasi yang memiliki kaidah ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Misalnya, dokter mendiagnosis satu penyakit itu memiliki tahapan dimulai dari anamnesis (wawancara dokter pasien), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (laboratorium dan radiologi). Jadi diagnosis dokter terhadap satu penyakit itu berdasarkan ilmu dengan pertimbangan klinis, bukan karena pertimbangan suku, ras, agama, apalagi materi.

Oleh karena dokter disumpah akan peran kemanusiaan yang dilakukannya dan didasarkan pada Evidence Base Medicine (EBM) dan Value Base Medicine (VBM) yakni pendekatan medic berdasarkan pada bukti-bukti ilmiah untuk pelayanan kesehatan penderita.

Sehingga praktek EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik seorang dokter dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya memadukan antara Best research evidence dan Clinical expertise. Identifikasi evidence yang lebih baru yang mungkin bisa berbeda dengan apa yang telah diputuskan sebelumnya, juga untuk menjamin agar intervensi yang akhirnya diputuskan betul-betul memberi manfaat yang lebih besar dari resikonya (“do more good than harm”).

Opini dan diagnosis oleh dokter terkait Covid-19 harus sesuai kaidah ilmiah da nada patokan ilmiahnya berdasarkan clinical pathway dan standar prosedur operasional (SPO) yang jelas. Maka beropinilah sesuai dengan keahlian bidang yang dikuasi, lihatlah pakarnya, karena gagasan dan opini saat ini cenderung mengarah pada hilangnya kepakaran bukan berdasar ilmu.

Apalagi jika masyarakat mulai lebih pintar dari dokter (tenaga ahli) dengan menulis opini berbadasar pada testimoni. Tentu tenaga medis memiliki keterbatasan dalam diagnosis tapi siapa lagi yang harus kita percayai jika tenaga medis yang banyak mempelajari dianggap mediagnosis tidak benar hanya karena prosedur penanganan covid yang ditetapkan dianggap merugikan keluarga penderita. Lagi-lagi tenaga medis bukan mendiagnosis tanpa dasar tapi berdasarkan pertimbangan Evidence dan Value bukan berdasarkan tendensi pertimbangan yang lain.

Penulis: Direktur RSUD Padjonga Daeng Ngalle dr Asriadi Ali

Total Views: 141 ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *