Posting pekerjaan

Hadapi Covid-19 : Kuliah Daring, Mahasiswa Bisa Apa?

TAKALAR-ST. Pandemi Corona Virus Dicease (covid-19) semakin hari semakin memperihatinkan. Dilansir dari Sul-sel tanggap covid-19 pada Sabtu pukul 17:36 (28/03/2020) data jumlah Pasien Positif Corona Melonjak menjadi 33 orang, 29 orang sedang dirawat dan 4 orang meninggal dunia.

Hal tersebut menimbulkan kepanikan dan kerancuan yang cukup serius baik, di sektor pemerintahan, hukum, ekonomi, kesehatan dan yang paling dekat dengan penulis ialah sektor pendidikan. Diharapkan segenap komponen, mulai dari pemerintah, pimpinan universitas, mahasiswa, tokoh masyarakat dan masyarakat kalangan atas maupun masyarakat kalangan bawah bisa saling merangkul, bersamaa-sama melawan pandemi ini.

Apalagi sudah ada himbauan resmi yang dikeluarkan Gubernur Sul-Sel agar menghindari keramaian, memindahkan aktivitas belajar dari sekolah ke rumah bagi pelajar dari tingkat PAUD hingga universitas, menunda perjalanan wisata serta yang paling penting tetap di rumah dengan mempraktikkan dan membudayakan pola hidup bersih dan sehat.

Namun, sudahkah hal itu di indahkan? Penulis rasa belum sepenuhnya, karena terbukti dari hari ke hari, korban yang positif terjangkit Virus Corona bertambah tiada kira.

Melalui surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 3 tahun 2020 tentang Pencegahan Covid 19, beberapa pihak Universitas telah mengindahkan surat edaran dengan menerapkan kebijakan upaya pencegahan penyebaran infeksi covid-19 di lingkungan kampus.

Cara yang dilakukan adalah mengalihkan kegiatan pembelajaran full daring seperti yang telah diupayakan pihak Universitas Negeri Makassar melalui surat edaran Rektor UNM yang terhitung pada tanggal 17 Maret s.d 31 Maret 2020 diperpanjang sampai dengan tanggal 5 April 2020.

Adapun Surat edaran rektor UIN Alauddin Makassar menegaskan perkuliahan secara online diperpanjang sampai akhir perkuliahan semester genap tanggal 12 Juni 2020. Kebijakan tersebut patut diacungi jempol ditengah wabah virus corona, namun tentu ada kelemahan dibaliknya.

“Kurang lebih dalam 2 minggu ini, beragam kendala yang kami rasakan selama kuliah online seperti jadwal kuliah dan pemberian tugas-tugas yang terkesan semaunya dosen, kemudian penyampaian substansi materinya juga kurang jelas.

Seharusnya ada submateri khusus yang dibagikan berupa file pdf atau power point sehingga ada acuan pembelajaran selama dosen menjelaskan materi lewat aplikasi daring” Ungkap Agus Rianto selaku Mahasiswa jurusan Hukum Tata Negara UIN Alauddin Makassar saat ditanya lewat whatsaap.

Meminjam keluhan seorang Mahasiswa semester 6 juga, Nurhaliza jurusan PPKn Universitas Negeri Makassar “ kendala saya selama kuliah online ialah jaringan kadang-kadang tidak bersahabat dan penggunaan quota data yang tidak sedikit.

Kami berharap pihak kampus memiliki kepekaan supaya permasalahan quota data dapat ditanggung kampus sebagai pengganti fasilitas kuliah tatap muka. Entah bagaimanapun caranya.”

Selain itu, salahseorang Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar, Fahri mengatakan lewat grup whatsaap Hipermata “Mengapa pihak kampus tidak menyediakan situs yang bisa diakses secara gratis, khusus untuk perkuliahan daring sehingga uang spp di semester ini bermanfaat sebagaimana kebutuhan mahasiswa.”

Hemat penulis, Mahasiswa bisa apa? jika kondisi mengharuskan seperti ini. Kita sama-sama berharap tidak ada yang memanfaatkan keadaan.

Tetap konsisten dan bersama-sama unjuk diri melawan pandemik covid-19 seperti mengupayakan perkuliahan tetap berjalan sebagaimana kadarnya. Tentu dengan cara Mahasiswa tetap aktif mengikuti perkuliahan dan pihak kampus juga bisa memberikan solusi atas permasalahan atau menjawab keluhan-keluhan yang dialami mahasiswa selama kuliah daring dilangsunkan.

Mengingatkan kita pada gagasan Paulo Freire “Pendidikan hadap masalah”. Semestinya antara mahasiswa dan pihak universitas mengerti secara kritis dirinya sendiri dan dunia tempat mereka berada sesuai kondisi. Mereka adalah sama-sama subyek Pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah objeknya.

Jadi secara serempak dimungkinkan ada dialog terkait masalah kuliah daring,artinya bukan hanya pihak kampus yang mengeluarkan kebijakan. Tetapi bisa mempertimbangkan masukan mahasiswa.

Akhir dari penulis, “seorang yang terdidik ialah seorang yang mampu bersikap bijak, dan tenang menghadapi masalah (covid-19), bukan malah gegabah memanfaatkan situasi”

Penulis : Susi Susanti (Kabid PP PB Hipermata)

Total Views: 905 ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *