Posting pekerjaan

Hidup Dalam Kemiskinan, Warga Desa Moncongkomba Tidak Pernah Tersentuh Bantuan dari Pemerintah

TAKALAR-ST. Upaya Pemerintah kabupaten (Pemkab) Takalar untuk mengentaskan kemiskinan nampaknya belum cukup merata dirasakan masyarakat. Buktinya, masih ada warga miskin yang sehari-hari hidup miskin, tetapi sama sekali tidak tersentuh bantuan pemerintah.

Cita-cita pemerintah pusat untuk mensejahterakan rakyat miskin, masih jauh dari harapan karena kurang tepatnya penerima bantuan sehingga bantuan yang dikuncurkan justru tidak menyentuh rakyat miskin.

Salah satu warga miskin di Kabupaten Takalar tersebut bernama Dg Rowa (35), warga Dusun La’nyara Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan.

Banyak program untuk kelurga miskin dengan kucuran uang yang tidak sedikit dikampanyekan pemerintah. Dari pusat hingga daerah, para pejabat berkampanye bahwa mereka serius menangangi kemiskinan. Sayangnya, Daeng Rowa tidak masuk dalam daftar orang miskin yang layak dibantu.

Alhasil, dg Rowa pun sama sekali tidak pernah tersentuh bantuan pemerintah penerima manfaat Program Keluarga harapan (PKH), Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), bantuan langsung atau bantuan nontunai, maupun bantuan lainnya.

Meskipun program pemerintah yang mengatasnamakan kemiskinan sering digembar-gemborkan, namun keberadaan Daeng Rowa dan istrinya seolah-olah tidak diakui oleh pemerintah.

Nama Daeng Rowa dan Istrinya  tidak pernah masuk dalam daftar warga yang mendapat bantuan apa pun. Nama mereka tidak pernah masuk Program Keluarga Harapan (PKH). Apalagi, program bedah rumah yang sudah bertahun-tahun dilakukan pemerintah. Padahal, secara fisik rumah Daeng Rowa sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal.

Karena hidup di bawah garis kemiskinan dan “melata sendiri” tanpa bantuan pemerintah, hampir setiap hari Daeng Rowa dan istrinya hanya bisa makan nasi dan tempe orek saja. Makanan sehari-hari mereka sangat jauh dari standar gizi.

Saat Wartawan Seputartakalar.com berkunjung ke rumahnya, Daeng Rowa tinggal bersama istrinya

Daeng Rowa, tinggal di rumah yang hanya berukuran 5×4 meter. Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan: dinding rumah yang terbuat dari Seng Bekas sudah banyak yang Rusak.

Bagian atapnya, Jika turun hujan rumah kumuh itu selalu bocor  sehingga bagian dalam rumahnya menjadi kebanjiran.

Daeng Rowa menempati rumah di atas tanah seluas 8×6 meter. Namun tanah yang ditempatinya bukanlah miliknya. Daeng hanya menumpang. Tanah itu milik orang Kerabatnya.

Daeng Rowa dan Istirnya yang Mereka harus menanggung kemiskinan tanpa bantuan pemerintah.

“Saya hanya numpang. Alhamdulilah sama yang punya tanah saya boleh menempatinya sampai kapan pun. Di sini saya hanya tinggal bersama istri dan anak saya, Kata Daeng Rowa kepada Wartawan Seputartakalar.com, Senin (20/04/2020).

Daeng Rowa menceritakan, sejak tahun 2010 ia tinggal hingga sampai sekarang ini, belum pernah sekalipun ia mendapat bantuan dari pemerintah. Seperti bantuan PKH, bedah rumah, bantuan langsung atau nontunai, maupun bantuan lainnya.

Ketika beberapa warga di desanya mendapatkan kartu sehat (Jamkesmas, Kartu Indonesia Sehat, dan aneka kartu sehat untuk warga miskin yang pernah dikeluarkan pemerintah) untuk bisa berobat gratis, ia selalu terlewat. Namanya tidak ada di daftar orang yang harus diberi kartu berobat gratis. Kartu sehat tidak pernah “mampir” ke rumahnya.

“Selama puluhan tahun hingga sekarang ini selama saya tinggal bersama istri dan anak saya saya di sini, belum pernah saya dapat bantuan dari pemerintah dalam bentuk apa pun,”ungkapnya.

Daeng Rowa mengaku, hal yang paling memberatkan dirinya adalah saat ia dan istrinya Lagi Mengandung . Sebab, keduanya tidak menjadi peserta Jamkesmas. Hal itulah yang membuat ia dan istrinya hampir tak pernah berobat. Jika sakit, mereka hanya bisa pasrah tanpa daya, sembari berharap sakit segera lenyap.

Penulis: Hairul Tangnga

Total Views: 2467 ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *