Posting pekerjaan

Kuliah Online Mencekik Mahasiswa Akibat Wabah covid-19

TAKALAR-ST. Wabah covid-19 mengakibatkan darurat kebijakan bermunculan. Salahsatunya ialah surat edaran dirjen pendidikan islam pada kemenag RI Nomor : 697/03/2020.

Menjelaskan bahwa masa perkuliahan secara daring ( dalam jaringan ) untuk seluruh PTKIN di perpanjang hingga akhir semester. Universitas Islam Negeri Alauddin adalah salahsatu kampus yang mengindahkan keputusan tersebut melalui surat edaran rektor tentang upaya pencegahan covid-19. Menganalisa hal ini, hampir seluruh kampus baik swasta maupun negeri untuk sementara tidak melakukan aktifitas seperti biasanya.

Kita ketahui bahwasanya hari ini Indonesia sedang berduka, baik dari segi pendidikan, kesehatan dan ekonomi menyebabkan berbagai sektor tersebut nyaris mogok dari segala rutinitasnya.

Belum lagi persoalan kuliah online yang di terapkan oleh pihak kampus yang berhasil membuat mahasiswa merasa tercekik. Pasalnya mahasiswa harus mengeluarkan budget untuk sekedar membeli kuota internet agar dapat mengakses kuliah online yang dijadwalkan semau-maunya dosen. Mirisnya, tak ada keringanan dari pihak kampus untuk membantu mahasiswa dalam mengatasi persoalan ini. Penulis sendiri merasakannya selaku salahseorang mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang berstatus aktif. Padahal baru-baru saja mahasiswa selesai melakukan pembayaran UKT untuk melanjutkan perkuliahannya. Namun sayangnya, hingga kini pihak kampus belum memberikan terobosan atau solusi terkait masalah ini.

Bukan hanya itu saja, diskusi online melalui jejaring aplikasi yg kerap di terapkan kepada mahasiswa cenderung tak memberikan hasil apa-apa, mengapa? karena diskusi online ini cenderung membuat dosen hanya muncul memberikan tugas semaunya, tanpa memberikan penjelasan yg runtut kepada mahasiswa. Selain itu, aktifitas vc pun diterapkan yang menguras banyak kuota tanpa ada penjelasan maksimal yang mahasiswa dapat.

Mengutip keluhan salahseorang mahasiswa UIN Alauddin Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam, Siti Dea Ananda “saya minta agar pihak kampus untuk mengembalikan setidaknya 50% UKT yang di bayarkan semester genap oleh mahasiswa di kembalikan di karenakan fasilitas kampus tidak kita nikmati. Terakhir kampus bisa menjamin setidaknya nilai B bagi seluruh mahasiswa di semester genap ini.”

Wajar, jika tuntutannya bernada kasar. Semestinya pihak kampus bisa saling bersinergi menghadapi covid-19 tanpa ada untung rugi dibalik upaya tersebut. Untuk itu,
Penulis berharap agar kuliah online ini tidak terkesan buruk bagi mahasiswa, pihak kampus paling tidak memiliki kepekaan untuk meminimalizir kendala-kendala yang dialami mahasiswa selama kuliah online dilaksanakan.

Penulis : Muh Radhi al Hafidz (Kader HIPERMATA Komisariat UIN Alauddin Makassar)

Total Views: 295 ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *