Posting pekerjaan

Subordinasi Perempuan Dalam Ranah Organisasi

TAKALAR. Wujud patriarkal bisa kita lihat lewat representase keaktifan perempuan di ruang-ruang publik. Penulis sendiri yang kebetulan tengah berkecimpung dibeberapa platform organisasi kemahasiswaan. Salahsatunya sebagai ketua bidang pemberdayaan perempuan Pengurus Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar (PB Hipermata), penulis hendak melawan steorytipe-steorytipe yang memandang bahwa perempuan sebagai makhluk yang lemah akal. Steorytipe yang seakan terlanjur menjadi kitab rujukan mayoritas masyarakat yang memaknai perempuan hanya sebagai pelengkap saja dalam organisasi. Sebab stigma perempuan yang cenderung mengutamakan emosional sudah menjadi ideologi yang akhirnya di bawa oleh perempuan itu sendiri bukan? Kira-kira, Apakah hal ini yang menghambat partisipasi perempuan di ranah organisasi khususnya di Hipermata?

Memang kita telah menyaksikan, perempuan tidak lagi membatasi dirinya untuk ikut dalam kegiatan sebuah organisasi, bahkan sekarang ini mereka begitu antusias menjadi pengurus organisasi tersebut. Namun, tidak sedikit dari mereka hanya datang, duduk dan diam saja.Tak jarang pula perempuan telah diberikan ruang yang lebih untuk mencalonkan menjadi ketua organisasi. Tetapi pada kenyataannya, sangat sedikit organisasi yang mau dipimpin oleh perempuan.

Kalaupun ia menjadi bagian dari struktural organisasi, paling biasa ia hanya ditempatkan pada posisi domestik semata, seperti bendahara atau di bidang yang hanya mengurus komsumsi saja. Tak jarang perempuan-perempuan tersebut pun merasa keenakan akan pembagian kerja seperti ini. Seolah mereka tidak ingin berlama-lama memperdebatkan konsep acara. Terkadang Sebagian dari mereka hanya terima jadi. Sungguh sangat sukar menuangkan ide apa tah lagi tampil sebagai narasumber dalam dialog publik.

Lalu bila terus-terusan seperti ini, siapa lagi yang mampu mewakili suara-suara perempuan, bila semua begitu nyaman dan menikmati fase kebungkamannya?

Hambatan dalam pelaksanaan program kerja di bidang pemberdayaan perempuan pada kepengurusan Pengurus Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar (PB Hipermata) periode 20119-2021 yang langsun penulis alami adalah sebuah contoh konkrit lemahnya sumber daya manusia berjenis kelamin perempuan. Bukan tanpa alasan, dari 5 anggota bidang, tidak satupun yang turut aktif menuangkan waktu dan ide pikirnya. Entah ketidakseriusannya dalam berorganisasi atau ketidataktahuannya menyampaikan olah pikir yang menghambat?

Fenomena ini cukup memprihatinkan karena sudah semestinya suara perempuan menjadi bagian terpenting dan perlu dipertimbangkan, misalnya saja dalam agenda konsolidasi pengawalan isu yang dikawal oleh Hipermata. Hendaknya kita tekankan kembali bahwa sebuah demokrasi yang sehat akan sulit tercapai jika tidak mengikutsertakan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Bagaimana tidak, pada agenda konsolidasi akbar hanya satu atau dua orang dari beberapa perempuan yang hendak mengemukakan idenya terkait bagaimana teknis pengawalan dilakukan.
Lantas, hal yang paling dikhawatirkan ialah bila nantinya tidak ada sama sekali perempuan yang hadir pada proses-proses pengambilan keputusan pada saat konsolidasi internal. Hal ini sangat berpotensi mengundang kondisi chaos pada saat demonstrasi dilakukan sebab tidak ada suara perempuan yang dapat melerai perdebatan. Pada kondisi-kondisi seperti biasanya, sebagian besar laki-laki cenderung agresif dan mengedepankan emosi pada saat menghadapi aparat keamananan. Itulah mengapa, bila ada aksi demonstrasi yang chaos perempuan seakan disuruh mundur lalu lebih duluan diamankan. Padahal bila dipikir-pikir lebih jauh, perempuan bisa menghentikan kekacauan tersebut seandainya perempuan diberikan ruang partisipasi yang lebih.

Stigma yang terbangun diorganisasi seringkali mengistemewakan perempuan pada waktu-waktu tertentu, tetapi justru hanya akan mengerdilkan eksistensinya bila dipikir matang-matang.Seandainya, potensi perempuan disadari dengan baik. Para orator perempuan yang sering tampil biasanya lebih bisa menyorot perhatian publik, seakan ada daya tarik tersendiri bila perempuan hendak berani menyuarakan perlawanannya.
Namun dibalik ini, celakanya ada pula yang masih mengganggap hal awam bila menyaksikan langsun perempuan tampil berdiri memegang toa lalu mengemukakan pendapatnya dengan lantang. Perempuan yang demikian hanya dianggap perempuan nakal, tidak punya malu, pemberontak, menyalahi kodrat. Lagi-lagi anggapan yang tidak berdasar ini justru mendiskriminasi perempuan.

Terlepas dari sentiment terhadap kapabilitas perempuan ini, sebenarnya setiap manusia berhak mendapat kebebasan terkhusus keebasan menyuarakan pendapat di muka umum yang tentunya mesti dilindungi oleh negara.

Untuk itu, bukan tanpa alasan jika yang perlu dibenahi oleh perempuan ialah kesadarannya agar lebih percaya diri tampil di hadapan publik bukan sekadar fokus pada penampilan luarnya semata, namun yang lebih patut diperhatikan ialah kemampuannya berbahasa dalam hal ini perempuan juga mampu terlibat aktif dalam ranah-ranah organisasi sehingga mampu juga melahirkan ide-ide yang solutif daripada permasalahan yang dihadapi dalam segala aspek.

Melalui bidang pemberdayaan perempuan yang dipunyai Hipermata, penulis berharap semua kader tidak terkecuali laki-laki dapat memaksimalkan realisasi daripada tujuan dibentuknya bidang tersebut. Kajian-kajian kesataraan gender yang selama ini dipelajari mesti tidak mandek dalam hal pengaplikasian. Sebab penulis percaya “Merawat akal perempuan berarti kita sedang merawat martabat bangsa dan negara.” Salam perempuan berlawan, salam perempuan berkarya.

Penulis : Susi Susanti (Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Pengurus Besar Hipermata)

Total Views: 177 ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *