Posting pekerjaan

Aksi BPJS Berujung Jeruji Besi, Mahasiswa Geram

Seputartakalar.com, Makassar– Aksi unjuk rasa (demontrasi) “Bubarkan BPJS” oleh aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Makassar Menggugat (FM3) selasa (12/11/2019) beberapa waktu yang lalu dikantor gubernur sulawesi selatan mengalami kejadian yang menarik perhatian dengan terjadinya penangkapan satu persatu aktivis mahasiswa.

Semula setelah aksi unjuk rasa tersebut, beberapa diantara mereka diringkus pihak kepolisian polrestabes kota Makassar. Kemudian kini baru saja selasa 04/12/219 kembali terjadi aksi penangkapan kepada suadara Muhammad Ilyas setelah usai melakukan aksi unjuk rasanya dikantor PLN

Pihak kepolisian meringkus Ilyas saat melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor PLN Jalan Hertasning, Kota Makassar, Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko membenarkan penangkapan tersebut saat dikonfirmasi, Senin, 2 Desember 2019.

“Iya benar, tadi sore kita amankan satu mahasiswa yang diduga sebagai pelaku pengrusakan di kantor Gubernur Sulawesi Selatan pada saat demonstrasi soal pembubaran BPJS” paparnya kepada awak media

Ilyas kita tangkap didepan kantor PLN ketika melakukan aksi demo dan selanjutnya Ilyas diamankan di Mapolrestabes Makassar guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dia adalah pelaku kelima yang kita amankan, sebelumnya kita amankan empat orang dibeberapa tempat berbeda di Makassar. Kita masih melakukan pengejaran beberapa rekan pelaku yang sudah kita ketahui identitasnya, lanjut Indratmoko

Salah satu mahasiswa Makassar dari Komunitas Pemerhati Demokrasi mengecam keras aksi penangkapan tersebut dan menilai bahwa ini kekeliruan dalam menyikapi aksi unjuk rasa mahasiswa.

“kabarnya penangkapan ini dikarenakan pelaporan oleh pemprov sulsel kepada kepolisian akan kejadian pengrusakan pagar kantor gubernur saat aksi berlansung. penangkapan ini dilain sisi bukannya meredam suara mahasiswa akan tetapi malah semakin memancing amarah mahasiswa lainnya, dan saya menilai ini kekeliruan dalam menyikapi sebuah aksi unjuk rasa karena naik turunnya tensi gerakan dilapangan tergantung bagaimana demonstran diperlakukan oleh pihak yang terkait” kata Jalil Abede

“sederhana saja bahwa terjadinya pengrusakan pagar tersebut itu dikarenakan tidak adanya proses penerimaan terhadap mereka dalam bentuk pertemuan untuk menyampaikan tuntutannya, seharusnya pemerintah dalam menyikapi aksi unjuk rasa lebih mengedepankan proses negosiasi melalui metode dialog dalam sebuah forum karena demonstran melakukan aksi unjuk rasa hanya ingin menyampaikan aspirasi berupa sebuah tuntutan” lanjut Jalil

Sampai saat ini penangkapan ini menuai banyak kritikan dari kalangan mahasiswa dan berharap ada sikap lebih dewasa pemerintah dalam menyikapi aksi-aksi unjuk rasa, mengingat juga kebebasan menyampaikan pendapat dibenarkan dalam UUD 1945 Pasal 28 E ayat 3 dan dipertegas dalam UU no. 09 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum

“saya berharap agar pemerintah provinsi sulsel dapat lebih dewasa dalam menyikapi aksi unjuk rasa tersebut dengan lebih mengedepankan dialog kepada kawan-kawan yang tergabung dalam FM3 dengan melalui pertemuan disebuah forum mengingat juga kebebasan menyampaikan pendapat dilindungi oleh UUD 1945 Pasal 28 E ayat 3 bahwa Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Dan dipertegas dalam UU No.09 Tahun 1998” Tutup Jalil Abede

(myh)

Total Views: 311 ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *